Minggu, 01 Agustus 2010

KEMAMPUAN MEMAHAMI AYAT-AYAT ALLAH…


KEMAMPUAN MEMAHAMI AYAT-AYAT ALLAH…

(Sumber: Harun Yahya )

Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah, dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS. An-Naml: 93)

Masyarakat zaman sekarang memperlakukan Al Quran berbeda sama sekali dengan tujuan penurunan Al Quran sebenarnya. Di dunia Islam secara umum, sedikit sekali orang yang mengetahui isi Al Quran.

Sebagian di antara mereka sering menyampul Al Quran dengan bagus dan menggantungnya pada dinding rumah, dan orang-orang tua membacanya sekali-sekali. Mereka beranggapan bahwa Al Quran melindungi pembacanya dari "kemalangan dan kesengsaraan". Menurut kepercayaan ini, Al Quran dianggap semacam jimat penangkal bala.

Padahal, ayat-ayat Al Quran menyatakan bahwa tujuan Al Quran diwahyukan sama sekali berbeda dengan yang tersebut di atas. Misalnya, dalam surat Ibrahim ayat ke-52, Allah menyatakan, "(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Ilah Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran." Dalam banyak ayat lain, Allah menegaskan bahwa salah satu tujuan utama diturunkannya Al Quran adalah untuk mengajak manusia bertafakur.

Dalam Al Quran, Allah mengajak manusia agar tidak mengikuti secara buta kepercayaan dan norma-norma yang diajarkan masyarakat, agar merenung dengan terlebih dahulu menyingkirkan segala prasangka, hal tabu, dan batasan yang ada dalam pikiran mereka.

Manusia harus memikirkan bagaimana ia menjadi ada, apa tujuan hidupnya, mengapa ia akan mati, dan apa yang terjadi setelah kematian. Ia hendaknya mempertanyakan bagaimana dirinya dan seluruh alam semesta ini menjadi ada dan bagaimana keduanya terus-menerus ada. Selagi melakukan hal ini, ia harus membebaskan dirinya dari segala ikatan dan prasangka.

Jika seseorang berpikir-dengan membebaskan akal dan nuraninya dari segala ikatan sosial, ideologis, dan psikologis-pada akhirnya ia akan merasakan bahwa seluruh alam semesta, termasuk dirinya, telah diciptakan oleh sebuah kekuatan Yang Mahatinggi. Bahkan ketika mengamati tubuhnya sendiri atau segala sesuatu di alam, ia akan melihat adanya keserasian, perencanaan, dan kebijaksanaan dalam perancangannya.

Al Quran memberikan petunjuk kepada manusia dalam masalah ini. Dalam Al Quran, Allah memberitahukan apa yang hendaknya kita renungkan dan kita amati. Dengan cara perenungan yang diajarkan dalam Al Quran, seseorang yang beriman kepada Allah akan dapat lebih baik merasakan kesempurnaan, hikmah abadi, ilmu, dan kekuasaan Allah dalam ciptaan-Nya. Jika seorang beriman mulai berpikir sesuai dengan cara-cara yang diajarkan dalam Al Quran, ia pun segera menyadari bahwa seluruh alam semesta adalah sebuah tanda karya seni dan kekuasaan Allah, dan bahwa "alam semesta adalah karya seni, dan bukan pencipta karya seni itu sendiri." Setiap karya seni memperlihatkan keahlian pembuatnya yang khas dan unik, serta menyampaikan pesan-pesannya.

Dalam Al Quran, manusia diseru untuk merenungi berbagai kejadian dan benda alam, yang dengan jelas memberikan kesaksian akan keberadaan dan keesaan Allah beserta sifat-sifat-Nya. Dalam Al Quran, segala sesuatu yang memberikan kesaksian ini disebut "tanda-tanda", yang berarti "bukti yang teruji kebenarannya, pengetahuan mutlak, dan pernyataan kebenaran." Jadi, tanda-tanda kebesaran Allah terdiri atas segala sesuatu di alam semesta ini yang memperlihatkan dan menyampaikan keberadaan dan sifat-sifat Allah. Orang-orang yang dapat mengamati dan senantiasa ingat akan hal ini akan memahami bahwa seluruh jagat raya tersusun hanya dari tanda-tanda kebesaran Allah.

Sungguh, adalah kewajiban bagi manusia untuk dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah…. Dengan demikian, orang tersebut akan mengenal Sang Pencipta yang menciptakan dirinya dan segala sesuatu yang lain, menjadi lebih dekat kepada-Nya, menemukan makna keberadaan dan hidupnya, dan menjadi orang yang beruntung dunia dan akhirat.

Buku ini tidak akan mampu memuat semua tanda kebesaran Allah yang tak terhitung jumlahnya, tidak juga buku yang lain. Segala sesuatu, tarikan napas manusia, perkembangan politik dan sosial, keserasian kosmis di alam semesta, atom yang merupakan materi terkecil, semuanya adalah tanda-tanda kebesaran Allah, dan semuanya berjalan di bawah kendali dan pengetahuan-Nya, menaati hukum-hukum-Nya. Menemukan dan mengenal tanda-tanda (ayat-ayat) Allah memerlukan upaya pribadi. Setiap orang akan menemukan dan memahami ayat-ayat Allah sesuai dengan tingkat pemahaman dan nalarnya masing-masing.

Tentu saja, ada panduan yang mungkin membantu. Pertama-tama, orang dapat mempelajari pokok-pokok tertentu yang ditekankan dalam Al Quran, agar ia memperoleh mentalitas berpikir yang menjadikan dirinya dapat merasakan seluruh alam semesta ini sebagai penjelmaan dari segala ciptaan Allah.

Buku ini ditulis untuk mengetengahkan beberapa masalah yang dianjurkan Al Quran agar kita renungkan. Tanda kebesaran Allah di alam semesta ditegaskan dalam surat An-Nahl:

"Dia-lah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanaman-tanaman; zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami-(nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. An-Nahl, 16: 10-17)

Dalam Al Quran, Allah mengajak kaum berakal untuk memikirkan hal-hal yang biasa diabaikan orang lain, atau yang biasa dikatakan sebagai hasil "evolusi", "kebetulan", atau "keajaiban alam" belaka.

Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),

"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imran:191)

Sebagaimana kita lihat dalam ayat-ayat ini, kaum berakal melihat tanda kebesaran Allah dan berusaha memahami ilmu, kekuasaan, dan kreasi seni-Nya yang tak terhingga ini dengan mengingat dan merenungkan hal-hal tersebut, sebab ilmu Allah tak terbatas dan ciptaan-Nya sempurna tanpa cacat.

Bagi orang yang berakal, segala sesuatu di sekeliling mereka adalah tanda penciptaan.

"Sesungguhnya, Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik." (QS. Al Baqarah: 26)


http://www.online-dbs.com/?info=Solusi Cerdas


Sabtu, 17 Juli 2010

IKHTIAR IKHLAS


Khotbah Cak Nun:
Seandainya… kita sempat diberi peluang oleh Allah dikasih biaya untuk keliling dunia menyusur benua-benua, lautan dan semua dataran maupun gunung di seluruh permukaan bumi.

Atau paling tidak, kalau pada suatu hari kita bertemu dengan saudara-saudara kita sesama manusia yang berasal dari daerah-daerah yang bermacam-macam. Tanyakan kepadanya: Apakah di negerinya ada tanah sesubur tanah negeri kita? Apakah ada bumi yang bagaikan ibu hamil yang subur sebagaimana bumi nusantara kita? Tanyakan kepada mereka: apakah ada matahari yang se-sumringah matahari republik Indonesia? Tanyakan kepada mereka: apakah ada rerumputan yang riang gembira sebagaimana rerumputan di padang-padang kita? Tanyakan kepada mereka tentang kembang-kembang, bunga-bunga, pepohonan, angin, dan apa saja, apakah ada yang seindah Indonesia? Apakah ada yang sesubur Indonesia? Apakah ada yang.. sedahsyat Indonesia didalam memantulkan rahmat dan baroqah Allah SWT?

Betapa cintanya Allah kepada kita. Betapa sayangnya Allah kepada bangsa kita. Betapa beruntungnya kita dilahirkan di bumi pertiwi. Jadi kenapa sampai krisis seperti ini? Kenapa sampai kacau begini negeri kita? Mengapa kita berebut makanan, berebut kekuasaan, berebut apa saja seolah-olah kita adalah bangsa yang sangat miskin padahal kita bangsa yang sangat kaya raya?

Atau mungkin kita menjadi sangat malas.. karena sudah tersedia apapun saja di negeri ini? Dan tiba-tiba, kita menjumpai diri kita bertengkar satu sama lain. Bahkan berbunuhan satu sama lain. Memusnahkan satu sama lain. Me-nidak-kan satu sama lain. Membenci satu sama lain. Kenapa?

Apa yang salah dengan sistem budaya kita? Apa yang salah dengan sistem akal fikiran kita? Sistem politik kita, demokrasi kita, dan lain sebagainya, apa yang salah? Apakah kita bersedia untuk… melihat bahwa memang ada kesalahan-kesalahan yang sedang kita lakukan?

Saya yakin, sebagaimana suburnya tanah dan tanaman-tanaman di negeri ini, Allah juga memberi rahmat berupa kesuburan dan kecerdasan di akal kita, dan kesuburan cinta di dalam hati kita. Akan tetapi masalahnya.. kita bukan nggak punya ilmu untuk menyelesaikan masalah. Kita bukan tidak punya metode untuk mengurangi bentrokan-bentrokan. Kita bukan tidak punya solusi untuk mengakhiri kerusuhan-kerusuhan dan pembunuhan-pembunuhan.

Masalahnya adalah: kita mau atau tidak? Kita bersedia atau tidak? Untuk mengubah diri kita agar supaya tidak terus-menerus di atas udara negeri ini terLantunkan secara batiniah tembang-tembang kematian, kematian, ….

www.online-dbs.com/?id=mastok

Selasa, 13 Juli 2010

Meretas masa depan cemerlang


SANDANG PANGAN PAPAN DAN………….??

Orang butuh sandang, bukan saja sekedar untuk menutupi aurat dan pantas,melindungi tubuh dari sengatan matahari dan terpaan angin bahkan juga menjadi simbol status social

Orang butuh pangan, bukan saja sekedar untuk memenuhi kebutuhan dasar demi kelangsungan hidup, tetapi bahkan untuk meningkatkan kualitas hidup sehat.

Orang butuh papan, bukan saja sekedar untuk berlindung dari sengatan panas matahari dan guyuran hujan dan angin, bahkan juga untuk meningkatkan kualitas hidup sehat dan juga menjadi symbol status social.

Manusia modern ternyata tidak cukup 3 macam kebutuhan pokok itu, tetapi juga dituntut untuk selalu belajar, menambah dan meningkatkan pengetahuannya agar kualitas hidup semakin tinggi. PENDIDIKAN menjadi kebutuhan pokok berikutnya.

Tidak berhenti sampai disitu, kemajuan teknologi,mobilitas dan dinamika kehidupan yg semakin tinggi , menuntut kebutuhan pokok yang lebih. INFORMASI DAN KOMUNIKASI menjadi kebutuhan pokok berikutnya.

Itu semua, pada batas tertentu menjadi kebutuhan primer yang harus dipenuhi, mau tidak mau, suka tidak suka, bahkan bisa tidak bisa.

http://www.online-dbs.com/?id=mastok

Senin, 25 Agustus 2008

ANCAMAN VONIS KEJAHATAN KEMANUSIAAN

Muchdi Pr Mayjen purn, mantan Deputi V BIN dan Mantan Danjen Kopassus TNI AD dijerat pasal 5 dan 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang menganjurkan pembunuhan berencana dalam kasus pembunuhan tokoh HAM sdr Munir Almarhum, dengan ancaman maksimal hukuman mati

Sementara di mimbar sidang lainnya, Urip Tri Gunawan SH mantan Kasubdit Tindak Pidana Ekonomi pada JAM Pidsus Kejagung RI dan sekaligus Koordinator jaksa penyelidik kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), yang menangani kasus Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) milik bos Grup Gadjah Tunggal Sjamsul Nursalim yang dicokol KPK karena menerima suap sebesar USD 600 ribu, terkait dugaan kasus korupsi BLBI yang merugikan negara sebesar 47,50 triliun rupiah dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Tipikor hukuman 15 tahun penjara.

Tanpa bermaksud mengecilkan Kasus pembunuhan tokoh HAM sdr Munir SH almarhum yang saya kagumi, juga tanpa mengecilkan peran Munir dalam konstelasi perjuangan kemanusiaan di Indonesia, rasanya ada yang perlu kita renungkan sikap, penilaian dan cara pandang kita terhadap 2 kasus besar yang hampir bersamaan diungkap di Pengadilan.

Yang pertama terdakwa kasus Munir, sdr Mayjen Purn Muchdi Pr sebagimana umumnya warga Negara Indonesia dia mempunyai hak dan kewajiban selaku warga Negara, namun sebagai anggota TNI tentu saja dia dituntut pengabdiannya yang lebih dari warga masyarakat, lebih2 dia adalah perwira tinggi yang tentu saja sudah melewati jenjang2 pendidikan kedinasan dan jenjang2 penugasan yang cukup panjang.

Sebagai anggota TNI tiga asas yang musti dimilikinya ialah : jiwa patriotisme, dedikasi pada tugas dan kedisiplinan yang tinggi, yang semua itu mau tidak mau harus dimilikinya untuk kemudian bisa mencapai karier seperti saat terakhir dia menjadi anggota TNI aktif.

Segala tindakan dan langkah2 yang diambilnya pasti berdasarkan tiga asas tersebut. Karier yang dia titi berlandaskan dan atas semangat tiga asas tersebut.

Dalam konteks kasus Munir, tindakan2 yang diambilnya yang kemudian menyeretnya ke kursi terdakwa dengan ancaman tuntunan hukuman mati, tidak lepas dari tiga asas yang saya sebutkan diatas.

Sebagai aparatur keamanan tentu saja yang dihadapi adalah orang2 bermasalah yang berpotensi mengancam keamanan, ketertiban, dan wibawa pemerintah selaku pemegang otorita dalam mengelola Negara Kesatuan RI

Sebagai seorang yang berada di wilayah otorita pengelola keamanan Negara apa yang dia lakukan selalu didasarkan pada kerangka tanggung jawabnya untuk mengemban tugas keamanan yang dibebankan kepadanya, yang tentu saja bukan sekedar kepentingan sempit apalagi kepentingan pribadi..

Kemudian yang kedua, terdakwa kasus korupsi BLBI, Jaksa Urip Tri Gunawan SH. Seperti halnya Muchdi Pr, dia juga pada kapasitasnya mempunya tanggungjawab dan kewajiban disamping hak sebagai warga Negara.

Jaksa Urip Tri Gunawan SH meniti karier cukup cemerlang , diusia yang terbilang muda dia sudah menjadi Kajati Bali, sebelum dia ditarik ke kejagung, bahkan dia adalah Jaksa Teladan. Tentu saja karier dan prestasi yang diraihnya bukan tanpa perjuangan dan ketekunannya dan dedikasinya mengemban tugas.

Sebagai seorang jaksa dia mempunyai tugas dan tanggungjawab mengawal tegaknya hukum dinegeri ini.

Sebagai aparat penegak hukum, tentu saja yang dia hadapi adalah orang2 yang bermasalah dengan hukum, dalam hal ini secara spesifik yang dia hadapi adalah orang-orang yang minimal terindikasi terkait dengan kasus korupsi BLBI.

Korupsi, termasuk kasus BLBI adalah kejahatan yang tidak kalah berbahayanya ( kalau tidak hendak dikatakan paling berbahaya) dibanding dengan “kejahatan2” politik , dan criminal lainnya.

Akibat yang ditimbulkanpun juga sangat luarbiasa. Negara kita mengalami keterpurukan hingga kini, juga salah satu factor utamanya adalah kejahatan korupsi;

Jadi selayaknyalah hukuman yang ditimpakan kepada para koruptor dan elemen2 pendukungnya juga berat, bahkan barangkali hukuman mati layak ditimpakannya.

Menyandingkan kadar “kejahatan” yang dituduhkan kepada jaksa Urip dan Muchdi Pr, dan kemudian ancaman hukuman yang dihadapi keduanya sungguh meretas rasa keadilan.

Kalau Amrozi cs, pelaku pemboman di Bali yang memakan ratusnya nyawa melayang, dan itupun sebagian besar warga Negara asing, divonis mati dan tidak layak menerima grasi, apakah pelaku2 Korupsi yang mengancam pertumbuhan dan bahkan nyawa jutaan rakyat miskin ditanah air ini tidak layak menerimanya??

Jumat, 22 Agustus 2008

PETAKA SODOM DAN GOMORAH


By F.Rahadi (wartawan & Penyair)

Flu burung ( avian influenza;AI ) tiba-tiba menjadi hantu yang sama menakutkan dengan AIDS. Inilah kutukan dari Sodom dan Gomora modern.

Agroindustri unggas modern sebenarnya telah menentang alam, sekaligus menentang hukum Allah. Itulah yang harus diubah, bukan hanya sekedar restrukturisasi menyangkut pembagian kapling.

Flu sebenarnya merupakan penyakit lama. Ada tiga tipe virus influenza: tipe A yang bisa menyerang hewan maupun manusia dan tipe B serta C yang hanya bisa menyerang manusia. Virus tipe A masih terdiri atas beberapa subtype, yakni H (1-15) dan N (1-9). AI sendiri sudah terdeteksi sejak 1978 di Italia, tetapi AI subtype baru dengan virus H5N1 pertama kali terdeteksi di Hongkong tahun 1997. Sejak itu, flu burung menjadi mirip AIDS, menimbulkan gejolak atas bisnis perunggasan, sekaligus mengancam hidup manusia.

Ketika AI menyerang unggas, virus ini belum menjadi wabah yang mendunia. Agroindustri perunggasan lalu menjadi massal dan mendunia, dengan benih (DOC/DOD), pakan,hormon pertumbuhan,antibiotic,dan obat-obatan dalam dosis tinggi secara intensif. Inilah pemicu utama terciptanya virus subtype baru. Terlebih setelah agroindustri peternakan hanya mementingkan keuntungan,tanpa memikirkan dampak negative yang ditimbulkan.

Wabah sapi gila di Inggris juga kutukan. Virus penyakit gila ini sebenarnya hanya berjangkit pada domba, dan tidak pernah menjadi wabah. Namun, agroindustri peternakan di Inggris terlalu rakus. Limbah dari rumah potong hewan, terutama tulang-tulang – terdiri tulang domba,kambing, sapi, babi, dan ternak lain- digiling dan dicampurkan ke konsentrat. Tujuannya adalah efisiensi. Dampaknya, terjadi degradasi genetic dan penularan penyakit. Penyakit gila yang sebelumnya hanya menyerang domba berjangkit pula ke sapi.

“Nuggets” dan sosis tulang

Pada agroindustri perunggasan, terutama ayam petelur, yang akan dipelihara hanyalah DOC betina. DOC jantan harus dibuang. Jika DOC jantan diberikan kepada ikan, dampak negatifnya hampir tidak ada. Namun sekali lagi demi efisiensi, DOC jantan langsung dimasukkan ke penggilingan dan dicampurkan ke pakan. “Kanibalisme” inilah antara lain yang telah mengakibatkan degradasi genetic, sekaligus ikut berperan memicu terciptanya virus AI subtype baru.

Namun itu semua belum terlalu mengerikan. Kini, tampaknya konsumen kurang jeli melihat ( atau tidak menduga ) sosis (sapi dan ayam),nuggets (ayam), dan kornet (sapi), yang dikonsumsi, sebenarnya bukan dari daging, tetapi limbah tulang-belulang. Limbah rumah pemotongan hewan dan rumah pemotongan ayam selalu menghasilkan limbah berupa tulang keras, tulang rawan, sumsum, urat dan sedikit daging yang masih melekat. Tulang kerasnya dipisahkan dan disebut MBM atau meat and bone meal. Ini merupakan bahan campuram industri pakan ternak, termasuk unggas.

Tulang rawan,urat,sumsum,dan daging disebut meat and debone meal (MDM). Produk inilah yang semula menjadi bahan campuran industri sosis, kornet dan nuggets. Kini, MDM menjadi bahan utama makanan pabrik itu. Terlebih dalam sosis ayam. Yang dimaksud MDM unggas sebenarnya semua limbah ayam ddgiling, sebab sekeras apapun tulang ayam masih amat lunak untuk menjadi sosis dan nuggets. Kita tidak pernah diberi tahu oleh Asosiasi Produsen Makanan Olahan Daging (National Association Meat Producer = NAMPA), berapa prosen sebenarnya kandungan MDM pada tiap sosis dan nuggets. Jangan-jangan sudah 100 persen.

Pola industri ternak seperti ini sebenarnya sudah melawan hukum alam, sekaligus hukum Allah. Sapi dan domba aslinya herbivora. Dalam industri modern mereka dipaksa menjadi karnivora, bahkan kanibal. Unggas makan biji-bijian dan kadang serangga serta cacing. Tetapi mereka tidak, pernah kanibal. Bahkan elang dan gagak yang karnivorapun tidak pernah kanibal. Tetapi manusia telah memaksa ayam dan itik menjadi kanibal. Bahkan DOC, anak ayam yang baru menetaspun, harus kembali digiling untuk dimakan oleh induk-induk mereka. Ini sudah lebih sadis dibanding kisah Sodom dan Gomora.

Limbah dari AS

Rakyat AS relative cerdas dalam melihat “pemyimpangan” atas hukum alam ini. Selain cerdas, mereka kaya. Itu sebabnya mereka tidak menyantap bagian lain dari ayam, kecuali daging dada. Kulit, daging paha, daging sayap, hati, ampela, tabu disantap. Apalagi kepala, leher, pantat, dan ceker. Semua itu harus dibuang. Lembaga Konsumen AS juga ketat hingga limbah itu tidak bisa digiling begitu saja dan dijadikan pakan. Kasus sapi gila di Inggris membuat rakyat AS lebih waspada.

Kemanakah limbah yang masih layak makan itu dibuang? Tentu ke Negara yang penduduknya banyak dan ekonominya lemah. Sasaran utama membuang paha dan sayap ayam adalah RRC,India, dan Indonesia. MDM hasil penggilingan limbah unggas juga dibuang kenegara berkembang dan Negara miskin. Untuk sarana pembuangan, kota-kota besar dinegara berkembang siap dengan restoran cepat saji dan pasar swalayan. Saat memungut sosis ayam dan nuggets, ibu-ibu pasti tak pernah membayangkan, bahwa bahan utama produk itu bukan daging, tetapi limbah.

Sebenarnya pemerintah harus mulai memperkuat agroindustri perunggasan tradisional peternakan itik sebagai penyeimbang. Kelembagaan peternakan rakyat ini sebenarnya sudah amat kuat. Hanya alokasi modal dan fasilitas lain tidak pernah tertuju ke mereka, sebab mereka, bukan pengusaha yang punya kapling dalam Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia (Gappi). Jika para peternak itik yang sudah masalpun tak tersentuh perhatian pemerintah, ayam kampung lebih tak diperhatikan lagi. Rakyat memang harus tabah dalam menerima petaka Sodom dan Gomorah modern berupa wabah flu burung.

Harian Kompas

BERAS PUTIH - HITAM HATI

Memang susah jadi rakyat . Kalau nggak panjang2 usus bisa frustasi dan stress berat. Beban dan problem hidup ber tubi2 seolah tanpa ampun menerjang dan melibas tiada henti.
Rasanya sebagian besar dari kita semua dari yang distrata paling atas sampai yang paling bawah seolah tidak lagi peduli dengan yang namanya nurani,moral,iktikad baik,sportifitas,jiwa ksatria etc. Konon kata orang "Dengan cara apapun ditempuh yang penting happy".
Pemimpin2 kita baik yang formal maupun non formal dengan kapasitas dan wewenang yang dimiliki (bahkan sering melebihi kapasitas dan wewenang yg semestinya) seakan lupa dengan tugas dan tanggungjawab yg seharusnya dijalankan. Demikian juga dengan kebanyakan kita rakyat kecil meski dg alasan yang berbeda (dan lebih sering disebabkan krn kerasnya pergulatan hidup) tidak jarang berperilaku tidak terpuji. Sudah sedemikian ruwetnya tatanan hidup ditanah tercinta ini,sehingga sering sulit kita membedakan baik-buruk,benar- salah,halal-haram,yang hitam ternyata putih-yang putih jebulnya item Whalaahh..hh.
Orang/Badan/Lembaga yang seharusnya menjadi panutan,teladan ,tempat dimana kita mengadu dan berlindung,ehh malah mencederai,menghianati bahkan menelikung dan memeras kita. Sementara kebanyakan saudara2 kita yang semestinya sangat patut disantuni,dikasihani dan diperhatikan,tidak jarang justru sering berperilaku konyol.
Saya berpikir problem terbesar yang kita hadapi sekarang ini bukan sekedar masalah ekonomi,tetapi masalah moral. Kita sedang menghadapi krisis moral,etika,budipekerti dan semangat gotong royong,yang melanda disegala sektor kehidupan dan tatanan sosial masyarakat kita. Sebenarnyalah Bangsa ini sedang sakit.
Tragedi kehidupan silih berganti menghiasi detik demi detik,step demi step kehidupan Bangsa ini. Dari mulai bencana alam,musibah kecelakaan,kasus dekadensi moral,korupsi,hingga pemalsuan produk2 yang dikonsumsi masyarakat,bahkan air dan beraspun dipalsukan!! Masya Allah!!!!.
Saya kira,kita.., siapun kita,Presiden kek,Menteri kek, Anggota DPR kek,Pemuka2 Agama kek,Tokoh2 Politik kek,Cendekiawan kek,Wartawan kek,Tukang Becak kek,Petani kek,Pemulung kek,TEKEK KEK, dan tentu so pasti saya dan anda yang membaca posting ini tanpa kecuali hrs lebih sering berkaca diri,berdialog dengan hati nurani masing2,hentikan kebiasaan mengarahkan jari telunjuk tangan kita ke orang lain,arahkan kediri kita sendiri. Hening...hening...dengarkan nurani kita yang fitri,.... hening...hening....adem..hmm..bak air telaga Jonggring Saloka...!!
Jangan hanya baju dan beras yang diputihkan,tetapi hati yang hitam inipun harus diputihkan (tapi jangan pakai bahan pemutih ..... Asli lhoooo...!!!!)

NAMA BAIK (…?? )

Dilayar TV, artis yang ayu jelita dan seksi itu dengan nada marah menyatakan akan menuntut karena merasa nama baiknya tercemar.

Sebelumnya, disiaran berita tv, bapak bupati itu menyesalkan berita yang dinilainya tidak benar dan mencoreng nama baik dan kehormatannya.

Dilain kesempatan ada Pak Bupati, pak Kapolres, Pak Kapolda, pak Gubernur dan pak-pak lainnya termasuk Yang terhormat Anggota De Pe Er sering kita saksikan di media melancarkan protes, keberatan ataupun kemarahan karena merasa nama baiknya dicemarkan, kehormatannya dirusak.

“ Pulihkan NAMA BAIK SAYA”

“ Telah Mencemarkan NAMA BAIK SAYA”

“ Ini adalah Pembunuhan Karakter”

“ Telah MENYINGGUNG KEHORMATAN SAYA”

Adalah beberapa contoh kalimat yang sering kita dengar, apabila pejabat, artis,tokoh2 kita menghadapi masalah.

“NAMA BAIK” adalah dua suku kata yang ambivalent.

Memang sudah selayaknyalah kita bangga dengan Nama pemberian orang tua kita sejak kita dilahirkan di muka bumi ini.

Yang menjadi pertanyaan, yakinkah kita setelah sekian puluh tahun menyandang nama kebanggaan pemberiaan orang tua, kita masih mampu menjaga bahkan menaikkan keharuman dan kebaikan nama itu??

Yakinkah kita kalau kita masih layak bangga dengan kebaikan dan keharuman nama itu??

Layakkah kita merasa tersinggung dan marah, sehingga harus minta kepada khalayak untuk mengembalikan harkat dan martabat nama baik itu??

Yakinkah kita kalau sesungguhnya yang mencoreng nama baik kita bukan diri kita sendiri??

Atau barangkali kita merasa bahwa dengan mengendarai mobil pribadi, pakaian berdasi, berada diruangan yang sejuk dan wangi, serta sering nongol di televisi sudah cukup membuktikan kalau kita adalah orang baik dan layak dihormati ??