Senin, 25 Agustus 2008

ANCAMAN VONIS KEJAHATAN KEMANUSIAAN

Muchdi Pr Mayjen purn, mantan Deputi V BIN dan Mantan Danjen Kopassus TNI AD dijerat pasal 5 dan 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang menganjurkan pembunuhan berencana dalam kasus pembunuhan tokoh HAM sdr Munir Almarhum, dengan ancaman maksimal hukuman mati

Sementara di mimbar sidang lainnya, Urip Tri Gunawan SH mantan Kasubdit Tindak Pidana Ekonomi pada JAM Pidsus Kejagung RI dan sekaligus Koordinator jaksa penyelidik kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), yang menangani kasus Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) milik bos Grup Gadjah Tunggal Sjamsul Nursalim yang dicokol KPK karena menerima suap sebesar USD 600 ribu, terkait dugaan kasus korupsi BLBI yang merugikan negara sebesar 47,50 triliun rupiah dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Tipikor hukuman 15 tahun penjara.

Tanpa bermaksud mengecilkan Kasus pembunuhan tokoh HAM sdr Munir SH almarhum yang saya kagumi, juga tanpa mengecilkan peran Munir dalam konstelasi perjuangan kemanusiaan di Indonesia, rasanya ada yang perlu kita renungkan sikap, penilaian dan cara pandang kita terhadap 2 kasus besar yang hampir bersamaan diungkap di Pengadilan.

Yang pertama terdakwa kasus Munir, sdr Mayjen Purn Muchdi Pr sebagimana umumnya warga Negara Indonesia dia mempunyai hak dan kewajiban selaku warga Negara, namun sebagai anggota TNI tentu saja dia dituntut pengabdiannya yang lebih dari warga masyarakat, lebih2 dia adalah perwira tinggi yang tentu saja sudah melewati jenjang2 pendidikan kedinasan dan jenjang2 penugasan yang cukup panjang.

Sebagai anggota TNI tiga asas yang musti dimilikinya ialah : jiwa patriotisme, dedikasi pada tugas dan kedisiplinan yang tinggi, yang semua itu mau tidak mau harus dimilikinya untuk kemudian bisa mencapai karier seperti saat terakhir dia menjadi anggota TNI aktif.

Segala tindakan dan langkah2 yang diambilnya pasti berdasarkan tiga asas tersebut. Karier yang dia titi berlandaskan dan atas semangat tiga asas tersebut.

Dalam konteks kasus Munir, tindakan2 yang diambilnya yang kemudian menyeretnya ke kursi terdakwa dengan ancaman tuntunan hukuman mati, tidak lepas dari tiga asas yang saya sebutkan diatas.

Sebagai aparatur keamanan tentu saja yang dihadapi adalah orang2 bermasalah yang berpotensi mengancam keamanan, ketertiban, dan wibawa pemerintah selaku pemegang otorita dalam mengelola Negara Kesatuan RI

Sebagai seorang yang berada di wilayah otorita pengelola keamanan Negara apa yang dia lakukan selalu didasarkan pada kerangka tanggung jawabnya untuk mengemban tugas keamanan yang dibebankan kepadanya, yang tentu saja bukan sekedar kepentingan sempit apalagi kepentingan pribadi..

Kemudian yang kedua, terdakwa kasus korupsi BLBI, Jaksa Urip Tri Gunawan SH. Seperti halnya Muchdi Pr, dia juga pada kapasitasnya mempunya tanggungjawab dan kewajiban disamping hak sebagai warga Negara.

Jaksa Urip Tri Gunawan SH meniti karier cukup cemerlang , diusia yang terbilang muda dia sudah menjadi Kajati Bali, sebelum dia ditarik ke kejagung, bahkan dia adalah Jaksa Teladan. Tentu saja karier dan prestasi yang diraihnya bukan tanpa perjuangan dan ketekunannya dan dedikasinya mengemban tugas.

Sebagai seorang jaksa dia mempunyai tugas dan tanggungjawab mengawal tegaknya hukum dinegeri ini.

Sebagai aparat penegak hukum, tentu saja yang dia hadapi adalah orang2 yang bermasalah dengan hukum, dalam hal ini secara spesifik yang dia hadapi adalah orang-orang yang minimal terindikasi terkait dengan kasus korupsi BLBI.

Korupsi, termasuk kasus BLBI adalah kejahatan yang tidak kalah berbahayanya ( kalau tidak hendak dikatakan paling berbahaya) dibanding dengan “kejahatan2” politik , dan criminal lainnya.

Akibat yang ditimbulkanpun juga sangat luarbiasa. Negara kita mengalami keterpurukan hingga kini, juga salah satu factor utamanya adalah kejahatan korupsi;

Jadi selayaknyalah hukuman yang ditimpakan kepada para koruptor dan elemen2 pendukungnya juga berat, bahkan barangkali hukuman mati layak ditimpakannya.

Menyandingkan kadar “kejahatan” yang dituduhkan kepada jaksa Urip dan Muchdi Pr, dan kemudian ancaman hukuman yang dihadapi keduanya sungguh meretas rasa keadilan.

Kalau Amrozi cs, pelaku pemboman di Bali yang memakan ratusnya nyawa melayang, dan itupun sebagian besar warga Negara asing, divonis mati dan tidak layak menerima grasi, apakah pelaku2 Korupsi yang mengancam pertumbuhan dan bahkan nyawa jutaan rakyat miskin ditanah air ini tidak layak menerimanya??

Jumat, 22 Agustus 2008

PETAKA SODOM DAN GOMORAH


By F.Rahadi (wartawan & Penyair)

Flu burung ( avian influenza;AI ) tiba-tiba menjadi hantu yang sama menakutkan dengan AIDS. Inilah kutukan dari Sodom dan Gomora modern.

Agroindustri unggas modern sebenarnya telah menentang alam, sekaligus menentang hukum Allah. Itulah yang harus diubah, bukan hanya sekedar restrukturisasi menyangkut pembagian kapling.

Flu sebenarnya merupakan penyakit lama. Ada tiga tipe virus influenza: tipe A yang bisa menyerang hewan maupun manusia dan tipe B serta C yang hanya bisa menyerang manusia. Virus tipe A masih terdiri atas beberapa subtype, yakni H (1-15) dan N (1-9). AI sendiri sudah terdeteksi sejak 1978 di Italia, tetapi AI subtype baru dengan virus H5N1 pertama kali terdeteksi di Hongkong tahun 1997. Sejak itu, flu burung menjadi mirip AIDS, menimbulkan gejolak atas bisnis perunggasan, sekaligus mengancam hidup manusia.

Ketika AI menyerang unggas, virus ini belum menjadi wabah yang mendunia. Agroindustri perunggasan lalu menjadi massal dan mendunia, dengan benih (DOC/DOD), pakan,hormon pertumbuhan,antibiotic,dan obat-obatan dalam dosis tinggi secara intensif. Inilah pemicu utama terciptanya virus subtype baru. Terlebih setelah agroindustri peternakan hanya mementingkan keuntungan,tanpa memikirkan dampak negative yang ditimbulkan.

Wabah sapi gila di Inggris juga kutukan. Virus penyakit gila ini sebenarnya hanya berjangkit pada domba, dan tidak pernah menjadi wabah. Namun, agroindustri peternakan di Inggris terlalu rakus. Limbah dari rumah potong hewan, terutama tulang-tulang – terdiri tulang domba,kambing, sapi, babi, dan ternak lain- digiling dan dicampurkan ke konsentrat. Tujuannya adalah efisiensi. Dampaknya, terjadi degradasi genetic dan penularan penyakit. Penyakit gila yang sebelumnya hanya menyerang domba berjangkit pula ke sapi.

“Nuggets” dan sosis tulang

Pada agroindustri perunggasan, terutama ayam petelur, yang akan dipelihara hanyalah DOC betina. DOC jantan harus dibuang. Jika DOC jantan diberikan kepada ikan, dampak negatifnya hampir tidak ada. Namun sekali lagi demi efisiensi, DOC jantan langsung dimasukkan ke penggilingan dan dicampurkan ke pakan. “Kanibalisme” inilah antara lain yang telah mengakibatkan degradasi genetic, sekaligus ikut berperan memicu terciptanya virus AI subtype baru.

Namun itu semua belum terlalu mengerikan. Kini, tampaknya konsumen kurang jeli melihat ( atau tidak menduga ) sosis (sapi dan ayam),nuggets (ayam), dan kornet (sapi), yang dikonsumsi, sebenarnya bukan dari daging, tetapi limbah tulang-belulang. Limbah rumah pemotongan hewan dan rumah pemotongan ayam selalu menghasilkan limbah berupa tulang keras, tulang rawan, sumsum, urat dan sedikit daging yang masih melekat. Tulang kerasnya dipisahkan dan disebut MBM atau meat and bone meal. Ini merupakan bahan campuram industri pakan ternak, termasuk unggas.

Tulang rawan,urat,sumsum,dan daging disebut meat and debone meal (MDM). Produk inilah yang semula menjadi bahan campuran industri sosis, kornet dan nuggets. Kini, MDM menjadi bahan utama makanan pabrik itu. Terlebih dalam sosis ayam. Yang dimaksud MDM unggas sebenarnya semua limbah ayam ddgiling, sebab sekeras apapun tulang ayam masih amat lunak untuk menjadi sosis dan nuggets. Kita tidak pernah diberi tahu oleh Asosiasi Produsen Makanan Olahan Daging (National Association Meat Producer = NAMPA), berapa prosen sebenarnya kandungan MDM pada tiap sosis dan nuggets. Jangan-jangan sudah 100 persen.

Pola industri ternak seperti ini sebenarnya sudah melawan hukum alam, sekaligus hukum Allah. Sapi dan domba aslinya herbivora. Dalam industri modern mereka dipaksa menjadi karnivora, bahkan kanibal. Unggas makan biji-bijian dan kadang serangga serta cacing. Tetapi mereka tidak, pernah kanibal. Bahkan elang dan gagak yang karnivorapun tidak pernah kanibal. Tetapi manusia telah memaksa ayam dan itik menjadi kanibal. Bahkan DOC, anak ayam yang baru menetaspun, harus kembali digiling untuk dimakan oleh induk-induk mereka. Ini sudah lebih sadis dibanding kisah Sodom dan Gomora.

Limbah dari AS

Rakyat AS relative cerdas dalam melihat “pemyimpangan” atas hukum alam ini. Selain cerdas, mereka kaya. Itu sebabnya mereka tidak menyantap bagian lain dari ayam, kecuali daging dada. Kulit, daging paha, daging sayap, hati, ampela, tabu disantap. Apalagi kepala, leher, pantat, dan ceker. Semua itu harus dibuang. Lembaga Konsumen AS juga ketat hingga limbah itu tidak bisa digiling begitu saja dan dijadikan pakan. Kasus sapi gila di Inggris membuat rakyat AS lebih waspada.

Kemanakah limbah yang masih layak makan itu dibuang? Tentu ke Negara yang penduduknya banyak dan ekonominya lemah. Sasaran utama membuang paha dan sayap ayam adalah RRC,India, dan Indonesia. MDM hasil penggilingan limbah unggas juga dibuang kenegara berkembang dan Negara miskin. Untuk sarana pembuangan, kota-kota besar dinegara berkembang siap dengan restoran cepat saji dan pasar swalayan. Saat memungut sosis ayam dan nuggets, ibu-ibu pasti tak pernah membayangkan, bahwa bahan utama produk itu bukan daging, tetapi limbah.

Sebenarnya pemerintah harus mulai memperkuat agroindustri perunggasan tradisional peternakan itik sebagai penyeimbang. Kelembagaan peternakan rakyat ini sebenarnya sudah amat kuat. Hanya alokasi modal dan fasilitas lain tidak pernah tertuju ke mereka, sebab mereka, bukan pengusaha yang punya kapling dalam Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia (Gappi). Jika para peternak itik yang sudah masalpun tak tersentuh perhatian pemerintah, ayam kampung lebih tak diperhatikan lagi. Rakyat memang harus tabah dalam menerima petaka Sodom dan Gomorah modern berupa wabah flu burung.

Harian Kompas

BERAS PUTIH - HITAM HATI

Memang susah jadi rakyat . Kalau nggak panjang2 usus bisa frustasi dan stress berat. Beban dan problem hidup ber tubi2 seolah tanpa ampun menerjang dan melibas tiada henti.
Rasanya sebagian besar dari kita semua dari yang distrata paling atas sampai yang paling bawah seolah tidak lagi peduli dengan yang namanya nurani,moral,iktikad baik,sportifitas,jiwa ksatria etc. Konon kata orang "Dengan cara apapun ditempuh yang penting happy".
Pemimpin2 kita baik yang formal maupun non formal dengan kapasitas dan wewenang yang dimiliki (bahkan sering melebihi kapasitas dan wewenang yg semestinya) seakan lupa dengan tugas dan tanggungjawab yg seharusnya dijalankan. Demikian juga dengan kebanyakan kita rakyat kecil meski dg alasan yang berbeda (dan lebih sering disebabkan krn kerasnya pergulatan hidup) tidak jarang berperilaku tidak terpuji. Sudah sedemikian ruwetnya tatanan hidup ditanah tercinta ini,sehingga sering sulit kita membedakan baik-buruk,benar- salah,halal-haram,yang hitam ternyata putih-yang putih jebulnya item Whalaahh..hh.
Orang/Badan/Lembaga yang seharusnya menjadi panutan,teladan ,tempat dimana kita mengadu dan berlindung,ehh malah mencederai,menghianati bahkan menelikung dan memeras kita. Sementara kebanyakan saudara2 kita yang semestinya sangat patut disantuni,dikasihani dan diperhatikan,tidak jarang justru sering berperilaku konyol.
Saya berpikir problem terbesar yang kita hadapi sekarang ini bukan sekedar masalah ekonomi,tetapi masalah moral. Kita sedang menghadapi krisis moral,etika,budipekerti dan semangat gotong royong,yang melanda disegala sektor kehidupan dan tatanan sosial masyarakat kita. Sebenarnyalah Bangsa ini sedang sakit.
Tragedi kehidupan silih berganti menghiasi detik demi detik,step demi step kehidupan Bangsa ini. Dari mulai bencana alam,musibah kecelakaan,kasus dekadensi moral,korupsi,hingga pemalsuan produk2 yang dikonsumsi masyarakat,bahkan air dan beraspun dipalsukan!! Masya Allah!!!!.
Saya kira,kita.., siapun kita,Presiden kek,Menteri kek, Anggota DPR kek,Pemuka2 Agama kek,Tokoh2 Politik kek,Cendekiawan kek,Wartawan kek,Tukang Becak kek,Petani kek,Pemulung kek,TEKEK KEK, dan tentu so pasti saya dan anda yang membaca posting ini tanpa kecuali hrs lebih sering berkaca diri,berdialog dengan hati nurani masing2,hentikan kebiasaan mengarahkan jari telunjuk tangan kita ke orang lain,arahkan kediri kita sendiri. Hening...hening...dengarkan nurani kita yang fitri,.... hening...hening....adem..hmm..bak air telaga Jonggring Saloka...!!
Jangan hanya baju dan beras yang diputihkan,tetapi hati yang hitam inipun harus diputihkan (tapi jangan pakai bahan pemutih ..... Asli lhoooo...!!!!)

NAMA BAIK (…?? )

Dilayar TV, artis yang ayu jelita dan seksi itu dengan nada marah menyatakan akan menuntut karena merasa nama baiknya tercemar.

Sebelumnya, disiaran berita tv, bapak bupati itu menyesalkan berita yang dinilainya tidak benar dan mencoreng nama baik dan kehormatannya.

Dilain kesempatan ada Pak Bupati, pak Kapolres, Pak Kapolda, pak Gubernur dan pak-pak lainnya termasuk Yang terhormat Anggota De Pe Er sering kita saksikan di media melancarkan protes, keberatan ataupun kemarahan karena merasa nama baiknya dicemarkan, kehormatannya dirusak.

“ Pulihkan NAMA BAIK SAYA”

“ Telah Mencemarkan NAMA BAIK SAYA”

“ Ini adalah Pembunuhan Karakter”

“ Telah MENYINGGUNG KEHORMATAN SAYA”

Adalah beberapa contoh kalimat yang sering kita dengar, apabila pejabat, artis,tokoh2 kita menghadapi masalah.

“NAMA BAIK” adalah dua suku kata yang ambivalent.

Memang sudah selayaknyalah kita bangga dengan Nama pemberian orang tua kita sejak kita dilahirkan di muka bumi ini.

Yang menjadi pertanyaan, yakinkah kita setelah sekian puluh tahun menyandang nama kebanggaan pemberiaan orang tua, kita masih mampu menjaga bahkan menaikkan keharuman dan kebaikan nama itu??

Yakinkah kita kalau kita masih layak bangga dengan kebaikan dan keharuman nama itu??

Layakkah kita merasa tersinggung dan marah, sehingga harus minta kepada khalayak untuk mengembalikan harkat dan martabat nama baik itu??

Yakinkah kita kalau sesungguhnya yang mencoreng nama baik kita bukan diri kita sendiri??

Atau barangkali kita merasa bahwa dengan mengendarai mobil pribadi, pakaian berdasi, berada diruangan yang sejuk dan wangi, serta sering nongol di televisi sudah cukup membuktikan kalau kita adalah orang baik dan layak dihormati ??