By F.Rahadi (wartawan & Penyair)
Flu burung ( avian influenza;AI ) tiba-tiba menjadi hantu yang sama menakutkan dengan AIDS. Inilah kutukan dari
Agroindustri unggas modern sebenarnya telah menentang alam, sekaligus menentang hukum Allah. Itulah yang harus diubah, bukan hanya sekedar restrukturisasi menyangkut pembagian kapling.
Flu sebenarnya merupakan penyakit lama.
Ketika AI menyerang unggas, virus ini belum menjadi wabah yang mendunia. Agroindustri perunggasan lalu menjadi massal dan mendunia, dengan benih (DOC/DOD), pakan,hormon pertumbuhan,antibiotic,dan obat-obatan dalam dosis tinggi secara intensif. Inilah pemicu utama terciptanya virus subtype baru. Terlebih setelah agroindustri peternakan hanya mementingkan keuntungan,tanpa memikirkan dampak negative yang ditimbulkan.
Wabah sapi gila di Inggris juga kutukan. Virus penyakit gila ini sebenarnya hanya berjangkit pada domba, dan tidak pernah menjadi wabah. Namun, agroindustri peternakan di Inggris terlalu rakus. Limbah dari rumah potong hewan, terutama tulang-tulang – terdiri tulang domba,kambing, sapi, babi, dan ternak lain- digiling dan dicampurkan ke konsentrat. Tujuannya adalah efisiensi. Dampaknya, terjadi degradasi genetic dan penularan penyakit. Penyakit gila yang sebelumnya hanya menyerang domba berjangkit pula ke sapi.
“Nuggets” dan sosis tulang
Pada agroindustri perunggasan, terutama ayam petelur, yang akan dipelihara hanyalah DOC betina. DOC jantan harus dibuang. Jika DOC jantan diberikan kepada ikan, dampak negatifnya hampir tidak ada. Namun sekali lagi demi efisiensi, DOC jantan langsung dimasukkan ke penggilingan dan dicampurkan ke pakan. “Kanibalisme” inilah antara lain yang telah mengakibatkan degradasi genetic, sekaligus ikut berperan memicu terciptanya virus AI subtype baru.
Namun itu semua belum terlalu mengerikan. Kini, tampaknya konsumen kurang jeli melihat ( atau tidak menduga ) sosis (sapi dan ayam),nuggets (ayam), dan kornet (sapi), yang dikonsumsi, sebenarnya bukan dari daging, tetapi limbah tulang-belulang. Limbah rumah pemotongan hewan dan rumah pemotongan ayam selalu menghasilkan limbah berupa tulang keras, tulang rawan, sumsum, urat dan sedikit daging yang masih melekat. Tulang kerasnya dipisahkan dan disebut MBM atau meat and bone meal. Ini merupakan bahan campuram industri pakan ternak, termasuk unggas.
Tulang rawan,urat,sumsum,dan daging disebut meat and debone meal (MDM). Produk inilah yang semula menjadi bahan campuran industri sosis, kornet dan nuggets. Kini, MDM menjadi bahan utama makanan pabrik itu. Terlebih dalam sosis ayam. Yang dimaksud MDM unggas sebenarnya semua limbah ayam ddgiling, sebab sekeras apapun tulang ayam masih amat lunak untuk menjadi sosis dan nuggets. Kita tidak pernah diberi tahu oleh Asosiasi Produsen Makanan Olahan Daging (National Association Meat Producer =
Pola industri ternak seperti ini sebenarnya sudah melawan hukum alam, sekaligus hukum Allah. Sapi dan domba aslinya herbivora. Dalam industri modern mereka dipaksa menjadi karnivora, bahkan kanibal. Unggas makan biji-bijian dan kadang serangga serta cacing. Tetapi mereka tidak, pernah kanibal. Bahkan elang dan gagak yang karnivorapun tidak pernah kanibal. Tetapi manusia telah memaksa ayam dan itik menjadi kanibal. Bahkan DOC, anak ayam yang baru menetaspun, harus kembali digiling untuk dimakan oleh induk-induk mereka. Ini sudah lebih sadis dibanding kisah
Limbah dari AS
Kemanakah limbah yang masih layak makan itu dibuang? Tentu ke Negara yang penduduknya banyak dan ekonominya lemah. Sasaran utama membuang paha dan sayap ayam adalah RRC,
Sebenarnya pemerintah harus mulai memperkuat agroindustri perunggasan tradisional peternakan itik sebagai penyeimbang. Kelembagaan peternakan rakyat ini sebenarnya sudah amat kuat. Hanya alokasi modal dan fasilitas lain tidak pernah tertuju ke mereka, sebab mereka, bukan pengusaha yang punya kapling dalam Gabungan Perusahaan Perunggasan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar